Showing posts with label art review. Show all posts
Showing posts with label art review. Show all posts
Wednesday, July 3, 2019
Wednesday, January 20, 2016
[INCLOVER MAGAZINE] Haines & Hinterding's: Energies
Featured in Inclover Magazine Issue 4 2015 edition
Words and Photos by: Stephanie Mamonto
Art review about Energies by Haines and Hinterding at Museum of Contemporary Arts Australia, Sydney. Went there at the end of winter season last August 2015.
Read also the story at their website here
Sunday, September 6, 2015
[INCLOVER MAGAZINE - ART REVIEW] The Cautionary Tales by Natasha Gabriella Tontey
Featured in Inclover Magazine Issue 3 2015 edition
Words and Photos by: Stephanie Mamonto
My latest article in InClover Magazine Indonesia about Natasha Gabriella Tontey's artwork/theatrical performance, THE CAUTIONARY TALES, as part of "LIMINAL" Art Project at Cemeti Art House, Yogyakarta last June 2015.
Read also the story at their website here.
Enjoy!
Sunday, August 21, 2011
[FEMINA] All About Women
Featured in FEMINA Magazine no. 18/2010 edition
By: Stephanie Mamonto, Primarita S. Smita, Angela Wahyuningsih
ps: the photo in the middle was taken by me.
Here are another photos which taken at 'Fiksi Non Fiksi' Photo Exhibition by Sony Seniawan, still movie photographer of Minggu Pagi di Victoria Park (Monday Morning at Victoria Park): a film by Lola Amaria, about Indonesian women working abroad at Hongkong.
Featured also in FEMINA Magazine no. 18/2010 edition
Words and photos by: Stephanie Mamonto
Here are the original photos which was taken by me at 'Surat-surat Kartini', a theatrical performance which was held at Goethe Haus, Menteng, April 13th, 2010.
Laksmi Notokusumo, the director, gave the audience a new perspective about Kartini, very different from what you've read at school. Nice performance, though, it was quite too long.
Tuesday, August 2, 2011
Thursday, January 14, 2010
URBAN BEHAVIOUR
SEORANG WANITA MENATAP NANAR ke arah dadu sambil menurunkan kerah kemeja tanpa lengan yang dikenakan. Ia tampak memamerkan belahan dadanya. Sebuah ironi kehidupan, ketika hasrat dijajakan lewat wajah cantik dan tubuh molek, yang mengungkap bisnis prostitusi di Jakarta.
Itulah lukisan Lucky Dice karya Hadi Soesanto dalam pameran Urban Behaviour yang digelar di Philo Art Space, akhir Oktober sampai awal November lalu. Dikuratori oleh Tommy F. Awuy, sebanyak 10 perupa Indonesia (berlatar akademi seni rupa di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, New York, dan Sydney) mencoba menangkap geliat urban yang ditemui dan dirasakan sendiri di Jakarta, kota yang konon bergaya hidup metropolis.

Gemerlap Jakarta ternyata sanggup membius manusia-manusia yang menempatinya. Dampaknya kental terasa pada kaum kelas menengah yang ingin selalu tampil berbeda, namun tak diiringi oleh kesadaran utuh. Maksud hati terlihat unik, mereka malah kehilangan identitas diri. Kompleksitas kehidupan kota inilah yang ditangkap oleh para perupa dan dibahasakan secara cerdas sekaligus 'nakal'. Hasilnya, imaji-imaji yang bisa bikin kita tergelitik atau bahkan tertawa sedih.
Tak terkecuali Dating Style, karya Jazz Pasay yang menampilkan isu pencarian asmara di kota. Memilih pasangan hidup di Jakarta memang gampang-gampang susah. Mau memilih atau terpilih dengan cara yang instan, seperti di acara televisi pun, mesti tahu kiatnya. Karya ini tampil lain daripada yang lain.


Berbeda dari Robi Fathoni yang lewat lukisan pensil akriliknya menonjolkan sisi gaya hidup 'seragam'. Dalam Metrosexual, ia sengaja tidak menampilkan wajah, sebagai penanda bahwa kekhasan sebuah pribadi terhapuskan oleh fashion, make up, dan lifestyle yang didikte oleh media. Selaras dengan Metropolis Life Style. Karya Sugihartono ini pun tak menampilkan wajah. Yang ada hanya penggabungan gaya-gaya berpakaian masyarakat kota, menggantikan kepribadian sang empunya.
Simak pula Yummiest Mummy. Lewat karyanya, Donny Paul seakan menyindir pernyataan bahwa seorang ibu rumah tangga seharusnya tak hanya lihai dalam urusan rumah tangga dan dapur, tetapi juga soal penampilan. Sebuah potret realitas budaya urban berorientasi fisik dengan pakem 'kota'.
Itulah lukisan Lucky Dice karya Hadi Soesanto dalam pameran Urban Behaviour yang digelar di Philo Art Space, akhir Oktober sampai awal November lalu. Dikuratori oleh Tommy F. Awuy, sebanyak 10 perupa Indonesia (berlatar akademi seni rupa di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, New York, dan Sydney) mencoba menangkap geliat urban yang ditemui dan dirasakan sendiri di Jakarta, kota yang konon bergaya hidup metropolis.
Gemerlap Jakarta ternyata sanggup membius manusia-manusia yang menempatinya. Dampaknya kental terasa pada kaum kelas menengah yang ingin selalu tampil berbeda, namun tak diiringi oleh kesadaran utuh. Maksud hati terlihat unik, mereka malah kehilangan identitas diri. Kompleksitas kehidupan kota inilah yang ditangkap oleh para perupa dan dibahasakan secara cerdas sekaligus 'nakal'. Hasilnya, imaji-imaji yang bisa bikin kita tergelitik atau bahkan tertawa sedih.
Tak terkecuali Dating Style, karya Jazz Pasay yang menampilkan isu pencarian asmara di kota. Memilih pasangan hidup di Jakarta memang gampang-gampang susah. Mau memilih atau terpilih dengan cara yang instan, seperti di acara televisi pun, mesti tahu kiatnya. Karya ini tampil lain daripada yang lain.
Simak pula Yummiest Mummy. Lewat karyanya, Donny Paul seakan menyindir pernyataan bahwa seorang ibu rumah tangga seharusnya tak hanya lihai dalam urusan rumah tangga dan dapur, tetapi juga soal penampilan. Sebuah potret realitas budaya urban berorientasi fisik dengan pakem 'kota'.
STEPHANIE MAMONTO
FOTO: SM
*Pameran lukisan yang dikuratori oleh Tommy F. Awuy
@ Philo Art Space (23 Oktober - 8 November 2009)
Subscribe to:
Posts (Atom)










